Pages

Saturday, December 1, 2018

Mengapa Yang Kaya Semakin Kaya dan Yang Miskin Semakin Miskin?


Dulu waktu kecil saya sering mendengarkan lagu Bang Haji Rhoma Irama yang lirik nya sebagai berikut :
"Yang kaya makin kaya ... yang miskin makin miskin ...."
Walaupun cuma lirik lagu, tapi Bang Haji mungkin menggunakan kalimat tersebut dalam lagu nya setelah melihat kenyataan dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu mengapa hal ini terjadi?
Hal ini terjadi karena perbedaan cara membelanjakan pendapatan (income) nya. Mari kita lihat kebiasaan orang dalam membelanjakan pendapatan nya.

Ada 4 jenis pengeluaran :
  1. Pengeluaran yang langsung habis, seperti untuk makan, minum, dan rekreasi.
  2. Pengeluaran untuk membeli barang yang nilainya turun, seperti pakaian, sepeda motor, mobil, televisi, handphone, kulkas, mesin cuci, perabot rumah, tabungan uang, dan lain-lain.
  3. Pengeluaran untuk membeli barang yang nilainya tetap / stabil, seperti emas batangan.
  4. Pengeluaran untuk membeli barang yang nilainya tumbuh, seperti tanah darat, tanah sawah, rumah kontrakan, ruko yang disewakan, dan lain-lain.
Perbedaan Kaya dan Miskin Secara Visual

Mengapa yang miskin semakin miskin?

Orang bisa menjadi miskin dan terus semakin miskin kalau pengeluarannya fokus pada jenis pengeluaran no.1 dan no.2. Ketika dia mendapatkan pemasukan baik dari upah, gaji, laba, ataupun komisi, dia membelanjakan nya hanya untuk makan, minum, dan rekreasi yang akan langsung habis tanpa menyisihkan sedikitpun untuk pengeluaran no.3 dan no.4.

Bahkan ketika penghasilannya meningkat, misalnya gaji nya naik, dia malah menggunakannya untuk makan yang lebih enak, rekreasi yang lebih menyenangkan, membeli handphone terbaru, televisi yang lebih gede, sepeda motor baru, mobil baru, menabung dalam bentuk uang, dan lain-lain.

Hartanya memang kelihatannya banyak, padahal seiring waktu nilai hartanya terus menurun. Handphone baru yang dibeli seharga Rp4 juta, setelah 2 tahun kalau dijual lagi apakah harganya masih Rp4 juta? Sepeda motor baru yang dibeli tunai seharga Rp14 juta, setelah 3 tahun kalau dijual lagi apakah harganya masih tetap Rp14 juta? Pasti nilainya turun minimal separuhnya. Ini kalau dibelinya secara tunai, kalau dibelinya secara kredit, pasti penurunannya jauh lebih besar.

Bahkan uang tabungan yang disimpan di bank setiap tahun nilai nya terus turun tergerus inflasi. Waktu menabung, uang Rp5 ribu masih bisa membeli 5 potong roti merk terkenal, setelah 5 tahun menabung, uang Rp5 ribu hanya bisa membeli 2 potong roti merk yang sama.

Sementara seiring waktu, umur bertambah tapi tenaga berkurang. Otomatis penghasilan pun semakin menurun. Apalagi kalau terkena PHK, pemasukan tersendat tapi kebutuhan primer sandang dan pangan seperti makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal tidak boleh berhenti. Disinilah proses pemiskinan dimulai. Harta yang nilainya sudah turun mulai dijual satu per satu walaupun dijual rugi. Sehingga akan terlihat yang miskin semakin miskin.

Jadi kalau pengeluaran hanya fokus kepada jenis pengeluaran no.1 dan no.2, maka secara logika suatu saat akan menjadi miskin yang semakin miskin. Mengapa saya katakan "secara logika", karena jika Allah SWT berkehendak untuk menjadikan kaya, walaupun pengeluarannya hanya berkutat di jenis pengeluaran no.1 dan no.2 dia akan tetap kaya.

Jangankan manusia, burung dalam sangkar pun tetap bisa makan walaupun tidak mencari makanan, bahkan makanannya bisa jauh lebih bergizi daripada burung yang diluar sangkar yang selalu berusaha. Itulah kehendak Allah SWT.

Mengapa yang kaya semakin kaya?

Orang bisa menjadi kaya dan terus semakin kaya kalau pengeluarannya fokus pada jenis pengeluaran no.3 dan no.4. Dia tetap makan, minum, dan rekreasi tapi benar-benar dihemat agar bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk disimpan dalam bentuk emas batangan. Mengapa emas batangan? Karena emas batangan nilainya tetap / stabil tidak tergerus inflasi.

Dulu pada zaman Rasulullah, harga seekor kambing adalah 1 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas 23 karat). Kalau saat ini harga emas 23 karat adalah Rp480 ribu per gram, maka 1 dinar sama dengan Rp2 juta. Saat ini pun dengan uang Rp2 juta kita masih bisa mendapatkan seekor kambing.

Kelihatannya harga emas terus naik, padahal bukan harga emas yang naik tapi nilai uang yang semakin turun. Jadi jika dibandingkan dengan uang, menabung dalam bentuk emas batangan nilainya akan terlihat naik. Ingat! Emas batangan, bukan emas perhiasan, karena biasanya emas perhiasan kalau dijual lagi harganya mengikuti harga kwitansi, jadi tetap terkena inflasi.

Setelah simpanan emas batangannya cukup, baru lah diuangkan untuk membeli jenis pengeluaran no.4 misalnya membeli tanah sawah. Tanah sawah nya disewakan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Penghasilan tambahannya pun disimpan lagi dalam bentuk emas batangan. Demikian seterusnya.

Dia menahan diri untuk tidak membeli jenis pengeluaran no.3 sebelum penghasilan tambahannya cukup. Menurut ahli keuangan, sebelum penghasilan tambahannya 10 kali lipat. Misalnya jika akan membeli sepeda motor seharga Rp14 juta, maka dia akan membelinya tunai setelah penghasilan tambahannya terkumpul Rp140 juta. Ingat! Dibelinya dari penghasilan tambahan bukan penghasilan utama.

Walaupun seiring waktu, penghasilan utamanya menurun karena usia semakin bertambah dan tenaga semakin lemah, tapi pendapatannya tetap besar karena penghasilan tambahannya jauh lebih besar dari penghasilan utamanya.

Jadi kalau pengeluaran difokuskan pada jenis pengeluaran no.3 dan no.4, maka secara logika suatu saat akan menjadi kaya yang semakin kaya. Sekali lagi saya katakan "secara logika", karena jika Allah SWT berkehendak untuk menjadikan miskin, walaupun dia berusaha fokus pada jenis pengeluaran no.3 dan no.4 maka dalam sekejap pun dia bisa menjadi miskin.


Kesimpulannya, miskin dan kaya adalah pilihan hidup yang bisa diusahakan. Namun, manusia hanya pandai berusaha, karena yang menentukan takdir miskin dan kaya sesungguhnya adalah Allah SWT. Kepada-Nya kita harus mendekat, berlindung, dan memohon, agar Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk kita.

Hasbunallooh wa Ni'mal Wakiil, Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir ....


Walloohu a'lam bish-showaab ....

-----------


Sunday, November 25, 2018

Kapan Kita Baligh dan Memiliki Catatan Amal Sendiri?


Baligh adalah usia saat seseorang mulai mempertanggungjawabkan amal perbuatannya kepada Allah SWT secara mandiri.

Ketika seseorang menginjak baligh, dia sudah terkena hukum syara', dia memiliki kewajiban menjalankan semua perintah dan menjauhi semua yang dilarang oleh Allah. Kalau dia melakukan perbuatan yang sesuai aturan Allah, maka dia akan mendapatkan pahala untuk dirinya. Sebaliknya kalau dia melanggar aturan Allah, dia akan mendapatkan dosa.

Amal perbuatan manusia sekecil apapun akan dicatat oleh malaikat Rakib dan Atid. Dua malaikat yang bagaikan super computer dengan tingkat ketelitian 100% mencatat semua amal perbuatan manusia. Malaikat Rakib mencatat amal perbuatan baik, dan Malaikat Atid mencatat amal perbuatan buruk.

Setiap manusia memiliki catatan amalnya masing-masing dan tidak akan pernah tertukar. Semua amal tersebut, baik ibadahnya maupun maksiatnya, akan dihisab (dihitung) dan dipertanggungjawabkan di hari pembalasan.

Kapan amal kita mulai dicatat oleh malaikat?
Amal kita akan mulai dicatat dalam buku catatan pribadi amal kita oleh malaikat adalah sejak kita baligh. Anak yang belum baligh, amalnya masih merupakan bagian amal orang tua nya.
Kapan Kita Baligh?

Kapan seseorang mulai menginjak baligh?

Menurut Imam Syafi'i, tanda seseorang mulai baligh itu ada 3 :

  1. Ketika umurnya sudah genap 15 tahun menurut kalender Hijriyah. Atau 14,5 tahun menurut kalender Masehi.
  2. Mengalami mimpi basah (mimpi jima') pada usia 9 tahun keatas.
  3. Mengalami haid atau menstruasi bagi perempuan pada usia 9 tahun keatas.

Jika salah satu saja dari 3 tanda di atas terpenuhi oleh seseorang, maka orang itu telah baligh.

Mari kita periksa diri kita. Sejak usia berapa kita mulai baligh? Hitung sampai hari ini.
Itulah masa yang akan kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah SWT.

Kalau kita sudah tahu kapan kita menginjak baligh, maka lihatlah anak-anak kita. Kapan anak kita mulai baligh? Beritahukan kepada anak kita tentang tanda-tanda baligh agar mereka bisa mempersiapkannya dengan sebaik-baiknya.

Usahakan menjelang anak kita baligh, mereka sudah terbiasa shalat 5 waktu, sudah terbiasa puasa Ramadhan dengan penuh, dan sudah terbiasa sedekah. Agar ketika anak kita memasuki baligh, dia sudah terbiasa melakukan shalat, puasa, dan zakat, dia sudah tidak berat lagi melakukannya.


Walloohu A'lam Bish-showaab ....



Artikel Terkait :


Friday, October 12, 2018

Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1440 H / 2019 M Diprediksi Dalam Kebersamaan

Pelaksanaan Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1440 H / 2019 M diprediksi akan sama antara yang ditetapkan oleh ormas-ormas Islam seperti NU, Muhamadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan lain-lain dengan yang ditetapkan oleh Pemerintah, yaitu Awal Puasa Ramadhan akan jatuh pada Hari Senin, 6 Mei 2019 M sedangkan Hari Raya Idul Fitri akan jatuh pada Hari Rabu, 5 Juni 2019 M. Dengan demikian, puasa di Bulan Ramadhan dilaksanakan sebanyak 30 hari.

Indahnya Kebersamaan

Jika prediksi diatas benar, maka sungguh indah dan nyaman bagi umat Islam bisa kompak dalam melaksanakan ibadah puasa dan terutama melaksanakan shalat sunat Hari Raya Idul Fitri. Jika merayakan Hari Raya Idul Fitri pada hari dan tanggal yang sama, maka budaya saling berkunjung, bertegur sapa, bersalaman, saling memaafkan, ngopi dan makan bersama akan menjadi moment yang sangat indah.

Prediksi kebersamaan ini berdasarkan perhitungan sebagai berikut : *)

Awal Ramadhan 1440 H
     Ijtimak akhir bulan Sya'ban      : Ahad, 5 Mei 2019 M jam 05.44 WIB
     Tinggi hilal malam Senin         : 5,29 derajat
     Tanggal 1 Ramadhan                : Senin, 6 Mei 2019 M

Idul Fitri / 1 Syawwal 1440 H
     Ijtimak akhir bulan Ramadhan  : Senin, 3 Juni 2019 M jam 16.59 WIB
     Tinggi hilal malam Selasa         : -0,18 derajat
     Tanggal 1 Syawwal                    : Rabu, 5 Juni 2019 M


Penjelasan Perhitungan Awal Ramadhan

Setelah ijtimak akhir bulan Sya'ban pada Hari Ahad, 5 Mei 2019 M jam 05.44 WIB, tinggi hilal pada saat matahari terbenam pada hari Ahad malam Senin adalah 5,29 derajat. Dengan demikian, tinggi hilal sudah memenuhi kriteria semua Metode Penentuan Awal Bulan, baik Metode Wujudul Hilal yang digunakan oleh ormas Muhammadiyah, maupun Metode Rukyatul Hilal bil Fi'li yang digunakan oleh ormas NU dan ormas Islam lainnya. Dengan demikian, semua ormas Islam di Indonesia akan sepakat menetapkan tanggal 1 Ramadhan 1440 H jatuh pada Hari Senin, 6 Mei 2019 M.


Penjelasan Perhitungan Hari Raya Idul Fitri

Setelah Ijtimak akhir bulan Ramadhan pada Hari Senin, 3 Juni 2019 M jam 16.59 WIB, tinggi hilal pada saat matahari terbenam pada hari Senin malam Selasa adalah -0,18 derajat. Artinya hilal masih berada di bawah ufuk, belum wujud. Tinggi hilal belum memenuhi kriteria Awal Bulan baik menurut Metode Wujudul Hilal maupun menurut Metode Rukyatul Hilal bil Fi'li. Jadi hari Selasa masih termasuk bulan Ramadhan, dengan demikian bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari. Semua Ormas Islam akan sepakat menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1440 H jatuh pada Hari Rabu, 5 Juni 2019 M.


Sidang Itsbat

Penjelasan di atas mengenai Awal Puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1440 H adalah baru prediksi penulis berdasarkan data yang ada. Adapun finalnya adalah keputusan Sidang Itsbat Kementrian Agama Republik Indonesia yang akan dilaksanakan pada :

     Hari Ahad malam Senin, 5 Mei 2019 M bada Maghrib :
     Sidang Itsbat Penentuan Awal Ramadhan 1440 H.
     Disiarkan seluruh stasiun TV.

          Hari Senin malam Selasa, 3 Juni 2019 M bada Maghrib :
          Sidang Itsbat Penentuan Hari Raya Idul Fitri 1440 H.
          Disiarkan seluruh stasiun TV.


Walloohu a'lamu Bishshowaab.




------------------------------
*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Jl. KH. Wachid Hasyim Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)



Artikel Terkait :



Monday, June 18, 2018

Kapan Hari Raya Idul Adha 1439 H / 2018 M ?


Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban selalu dilaksanakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Pada tahun 2018 ini Hari Raya Idul Adha 1439 H bertepatan dengan Hari Rabu, 22 Agustus 2018.

Suasana Hari Raya Idul Adha 1439 H akan terasa kompak karena dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah diprediksi akan menetapkan hari yang sama sebagai Hari Raya Idul Adha 1439 H. Walaupun metode penentuan awal bulan berbeda antara NU dan Muhammadiyah, NU menggunakan Metode Rukyaul Hilal bil Fi’li dan Muhammadiyah menggunakan Metode Wujudul Hilal, tapi hasil perhitungan dari kedua metode tersebut akan sama-sama menyatakan bahwa hilal belum terlihat / belum wujud.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut : *)

     Ijtimak akhir Dzulqa’dah      : Sabtu, 11 Agustus 2018 M jam 16.51WIB
     Tinggi hilal malam Ahad      : -0,60 derajat
     Tinggi hilal malam Senin     : 13,25 derajat
     Tanggal 1 Dzulhijjah            : Senin, 13 Agustus 2018 M
     Tanggal 10 Dzulhijjah          : Rabu, 22 Agustus 2018 M

Penjelasan :
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, setelah ijtimak, tinggi hilal pada malam Ahad -0,60 derajat, artinya hilal belum wujud dan belum bisa dirukyat, jadi tanggal 1 Dzulhijjah 1439 H bertepatan dengan Hari Senin, 13 Agustus 2018 M. Dengan demikian tanggal 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Idul Adha 1439 H jatuh pada Hari Rabu, 22 Agustus 2018 M.

Kenapa Masih Ada Jamaah Yang Berbeda?
Adanya jamaah yang masih berbeda dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri seperti yang sering kita lihat di TV, adalah karena metode perhitungan yang mereka gunakan merupakan metode hisab lama (tidak pernah di-update di lapangan) yang sudah tidak sesuai lagi dengan realita pergerakan matahari dan bulan pada saat ini.

Walloohu a'lam Bishshowaab.


-------------------------------

*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)

Monday, May 7, 2018

Kapan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H / 2018 M


Pada tahun 2018 ini mayoritas Umat Islam di Indonesia diprediksi akan melaksanakan Awal Puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1439 H secara kompak bersamaan. Hal ini terjadi karena Pemerintah RI dalam hal ini Kementrian Agama Republik Indonesia beserta seluruh Ormas Islam di bawah naungannya (termasuk NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia), diprediksi akan kompak dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H / 2018 M, yaitu :

          Awal Puasa Ramadhan 1439 H     : Kamis, 17 Mei 2018 M
          Idul Fitri / 1 Syawal 1439 H         : Jumat, 15 Juni 2018 M
          Jumlah Hari Berpuasa                   : 29 Hari.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut : *)

Awal Ramadhan 1439 H
     Ijtimak akhir bulan Sya'ban      : Selasa, 16 Mei 2018 M jam 18.41WIB
     Tinggi hilal malam Rabu          : -0,72 derajat
     Tinggi hilal malam Kamis        : 12,17 derajat
     Tanggal 1 Ramadhan                : Kamis, 17 Mei 2018 M

Idul Fitri / 1 Syawwal 1439 H
     Ijtimak akhir bulan Ramadhan  : Kamis,14 Juni 2018 M jam 02.38 WIB
     Tinggi hilal malam Jumat          : 7,98 derajat
     Tanggal 1 Syawwal                    : Jumat, 15 Juni 2018 M

Penjelasan Perhitungan Awal Puasa Ramadhan

Berdasarkan hasil perhitungan untuk awal Ramadhan 1439 H di atas. Tinggi hilal pada malam Rabu -0,72 derajat, artinya pada saat matahari terbenam, hilal berada di bawah ufuk, dengan kata lain hilal belum wujud dan pastinya tidak akan bisa dirukyat/dilihat. Baru pada malam Kamis nya tinggi hilal 12,17 derajat, artinya hilal sudah wujud dan sudah melebihi batas minimal 2 derajat untuk bisa dirukyat. Dengan demikian, awal Ramadhan 1439 H adalah Hari Kamis, 17 Mei 2018 M.

Penjelasan Perhitungan Hari Raya Idul Fitri

Berdasarkan hasil perhitungan untuk penentuan Idul Fitri 1 Syawal 1436 H di atas, tinggi hilal pada malam Jumat 7,98 derajat, artinya hilal sudah wujud dan bisa dirukyat karena telah melebihi batas minimal 2 derajat, jadi Hari Raya Idul Fitri 1439 H jatuh pada Hari Jumat, 15 Juni 2018 M.

Kenapa Masih Ada Jamaah Yang Berbeda?

Adanya jamaah yang masih berbeda dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri seperti yang sering kita lihat di TV, adalah karena metode perhitungan yang mereka gunakan merupakan metode hisab lama (tidak pernah di-update di lapangan) yang sudah tidak sesuai lagi dengan realita pergerakan matahari dan bulan pada saat ini.

Walloohu a'lam Bishshowaab.




-------------------------------

*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)