Tuesday, June 28, 2016

Trading Forex Online Menurut Islam Hukumnya Haram ?

Pada kesempatan ini kita akan mengkaji mengenai halal atau haramnya perdagangan / trading forex online dalam pandangan Islam seperti yang banyak dipertanyakan di media. Trading forex online yang dimaksud pada tulisan ini adalah forex yang diperdagangkan secara online.

Forex berasal dari kata "Foreign Exchange" yang berarti pertukaran mata uang asing. Forex yang dimaksud dalam tulisan ini adalah mata uang (valas) yang dipertukarkan berdasarkan pasangan-pasangannya (pairs) secara online. Pasangan-pasangan (pairs) itu berupa EUR/USD, GBP/USD, EUR/GBP, USD/JPY dan seterusnya.

Perdebatan mengenai halal atau haramnya trading forex online, sebagian sudah terselesaikan berkat keluarnya Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No.28/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf), namun dalam fatwa tersebut tidak menyebutkan secara tegas mengenai trading forex online. Fatwa tersebut hanya menyebutkan trading forex secara umum, berikut kutipan fatwanya :
"Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan).
2. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan).
3. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).
4. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai."
Pada poin no.1, MUI memfatwakan bahwa transaksi jual beli mata uang boleh dilakukan kalau tidak untuk spekulasi (untung-untungan). Dengan kata lain, transaksi jual beli mata uang hukumnya menjadi haram (tidak boleh) apabila dilakukan dengan spekulasi, tebak-tebakan, atau untung-untungan (menebak dengan maksud mencari untung), karena itu termasuk judi.

Pada poin no.2, MUI memfatwakan bahwa transaksi jual beli mata uang boleh dilakukan kalau ada "kebutuhan transaksi" atau untuk berjaga-jaga (simpanan). Pemahaman tentang "kebutuhan transaksi" pada fatwa tersebut adalah kebutuhan transaksi mu'amalah seperti untuk kebutuhan traveling, ekspor-impor, membayar hutang ke orang asing, dan lain-lain, bukan transaksi yang disengaja untuk mencari keuntungan dari perubahan nilai kurs. Dengan kata lain, kalau transaksi jual beli mata uang dilakukan dengan maksud mencari profit/keuntungan dari perubahan nilai kurs maka hukumnya haram.
Selain itu, madharatnya, jika jual beli mata uang dimaksudkan untuk mencari profit, maka hal ini bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi suatu negara.
Setiap pelaku trading forex online bertujuan untuk mencari profit dari perubahan nilai mata uang, tidak pernah bertujuan simpanan (jaga-jaga), apalagi untuk transaksi mu'amalah.

Dengan memperhatikan poin 1 dan poin 2 dari kutipan Fatwa MUI di atas, maka bisa disimpulkan bahwa trading forex online dalam pandangan Islam hukumnya HARAM.

Alasan Trading Forex Online Hukumnya Haram

Trading forex online hukumnya haram karena prosedur transaksinya sama dengan judi, ada episode ijab kabul menebak/spekulasi, dan diakhir transaksi ada kemungkinan hasilnya nol.

Mari kita bandingkan prosedur transaksi antara tranding forex online dengan judi bola.

Ini prosedur transaksi trading forex online :
  1. Si A menyetor uang yang akan ditradingkan ke rekening trading miliknya yang ada di broker.
  2. Si A menganalisa pasar berdasarkan indikator dan berita yang dimilikinya, lalu menentukan posisi buy atau sell (menebak dengan tujuan agar profit).
  3. Setelah mengambil posisi buy/sell, ada dua kemungkinan saat close yaitu "untung atau rugi".
  4. Kalau rugi, maka uangnya yang ditransaksikan hilang.

Ini prosedur transaksi judi, misalnya judi bola :
  1. Si A menyetor uang yang akan dipertaruhkan ke bandar.
  2. Si A menganalisa para pemain yang akan bertanding berdasarkan performa dan berita yang dimilikinya, apakah pemain inti tampil semua, apakah ada pemain inti yang cedera dan sebagainya, lalu menentukan posisi taruhan menang atau kalah (menebak dengan tujuan agar untung).
  3. Setelah mengambil posisi menang/kalah, ada dua kemungkinan saat usai pertandingan yaitu "menang atau kalah".
  4. Kalau kalah, maka uangnya yang ditransaksikan hilang.
Disini terlihat pada prosedur ke-2 ada episode ijab kabul menebak : "buy/sell" (menjatuhkan tebakan diantara dua pilihan : buy atau sell). Walaupun didahului dengan analisa yang mendalam sehingga tebakannya tidak asal tebak, ya tetap saja hasilnya berupa tebakan juga atau spekulasi alias judi karena hasilnya bisa loss atau profit. Selain itu, diakhir transaksi / saat close ada potensi kehilangan uang yang ditransaksikan tanpa ada barterannya.

Coba Tunjukan Prosedur Transaksi yang Halal !

Mari kita bandingkan dengan prosedur transaksi pada perdagangan yang HALAL, baik pada komoditas maupun valas.
Ini prosedur transaksi jual beli komoditas:
  1. Si A ingin membeli kulkas dan si B bersedia menjual kulkasnya dengan harga tertentu, lalu si A dan si B menyepakati harga kulkas.
  2. Terjadi ijab kabul / serah terima kulkas dan uang.
  3. Si A, RELA menyerahkan sejumlah uang untuk medapatkan kulkas yang diinginkannya, dan si B pun RELA menyerahkan kulkas untuk mendapatkan sejumlah uang yang besarnya sesuai harga kesepakatan.
  4. Seusai transaksi, si A mendapat kulkas dan si B mendapat uang dengan ke-RELA-an masing-masing sesuai kesepakatan.

Ini prosedur transaksi jual beli valas :
  1. Si A punya Rupiah dan ingin memiliki Dollar, sedangkan si B punya Dollar dan bersedia melepas dollarnya ke Rupiah dengan kurs tertentu, lalu si A dan si B menyepakati nilai kurs Rupiah terhadap Dollar.
  2. Terjadi ijab kabul / serah terima Rupiah dan Dollar.
  3. Si A, RELA menyerahkan Rupiah untuk medapatkan Dollar yang diinginkannya, dan si B pun RELA menyerahkan Dollar untuk mendapatkan Rupiah yang besarnya sesuai nilai kurs kesepakatan.
  4. Seusai transaksi, si A mendapat Dollar dan si B mendapat Rupiah dengan ke-RELA-an masing-masing sesuai kesepakatan.
Disini terlihat bahwa pada perdagangan yang halal, seluruh transaksinya bebas dari unsur tebakan, dan semua pihak "sama-sama RELA". Demikian juga, diakhir transaksi semua pihak mendapatkan bagiannya, tidak ada yang tangan hampa atau nol.

Bagaimana dengan Money Changer (tempat penukaran uang)? Bukankah penukaran uang dijadikan ladang bisnis?


Bisnis Money Changer (tempat penukaran uang) tidak haram karena profitnya tidak diambil dari fluktuasi nilai kurs, tapi dari selisih nilai jual dan nilai beli mata uang, dimana nilai jual dan nilai beli ini sudah disepakati sebelum transaksi, dan di Money Changer tidak ada tebakan.


Kesimpulan

Trading forex online menurut Islam hukumnya haram, karena :
  1. Pada tranding forex online ada spekulasi atau tebakan untuk mencari untung. Walaupun tebakan itu didahului dengan analisa berdasarkan ilmu dan berita forex, tetapi tetap saja hasilnya berupa tebakan antara pilihan buy atau sell yang sama-sama berpotensi loss atau profit. (Melanggar Fatwa MUI poin 1 pada kutipan di atas.)
  2. Bisnis trading forex online, menjadikan transaksi jual beli mata uangnya sebagai ladang mencari untung dengan memanfaatkan fluktuasi nilai kurs, bukan untuk kebutuhan transaksi mu'amalah. (Melanggar Fatwa MUI poin 2 pada kutipan di atas.)
  3. Trading forex online sebenarnya tidak menganut azas jual beli yang sah menurut Islam, karena di akhir transaksi berpotensi ada pihak yang loss / kehilangan uang yang ditransaksikan tanpa ada barterannya.
  4. Kegiatan trading forex online ini bisa mempengaruhi kestabilan nilai kurs mata uang suatu negara yang berimplikasi pada ketidakstabilan ekonomi negara tersebut, bahkan bisa menjadi krisis ekonomi seperti yang terjadi di Indonesia tahun 1997-1998.
  5. Kegiatan trading forex online adalah mencari untung dengan memilih (kalau tidak mau menebak) antara buy atau sell, dan tidak ada nilai tambah "economic value" yang diberikan dari transaksinya. Value / nilai tambah itu misalnya: saya membeli botol plastik bekas dengan harga Rp200,- lalu botol bekas ini saya ubah menjadi tempat pensil yang indah, kemudian saya jual kembali tempat pensil itu dengan harga Rp500,- jadi saya mendapatkan profit Rp300,- ini imbalan karena saya telah memeberikan nilai tambah pada botol plastik bekas tersebut. Dalam trading forex online, profit dihasilkan bukan dari nilai tambah.
Disclaimer :
Tulisan ini hanya dimaksudkan sebagai pencerahan kepada seluruh Umat Islam dalam khazanah perdagangan / Trading Forex Online. Tidak dimaksudkan mengajak atau melarang Trading Forex Online. Hukum halal dan haram serta penjelasan lain yang disampaikan dalam tulisan ini pun hanya berdasarkan intrerpretasi penulis terhadap dalil/keterangan yang ada dan tidak mengikat bagi siapapun. 


Thursday, March 3, 2016

Puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1437 H / 2016 M dalam Kebersamaan


Alhamdulillah, pada tahun 2016, umat Islam diprediksi akan mengawali dan mengakhiri Puasa Ramadhan 1437 H secara bersama. Artinya awal puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1437 H akan dilaksanakan oleh Umat Islam secara bersama, tidak ada ormas Islam yang satu mendahului ormas Islam yang lain dalam melaksanakannya. Ormas Islam yang saya maksud adalah seluruh ormas Islam yang resmi dibawah Kementrian Agama Republik Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan sebagainya.

Secara bersama, Insya Allah, Puasa Ramadhan 1437 H akan dimulai pada Hari Senin, 6 Juni 2016 M, sedangkan Hari Raya Idul Fitri 1437 H akan dilaksanakan pada Hari Rabu, 6 Juli 2016 M. Dengan demikian Umat Islam akan melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan 1437 H selama 30 hari.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut : *)

Awal Puasa Ramadhan 1437 H / 2016 M

Ijtimak akhir bulan Sya’ban    : Ahad, 5 Juni 2016 M, jam 09.57 WIB
Tinggi Hilal malam Senin       : 3,93 derajat
Tanggal 1 Ramadhan 1437 H  : Senin, 6 Juni 2016 M.

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, tinggi hilal pada malam Senin 3,93 derajat. Tinggi hilal sebesar ini telah memenuhi kriteria Metode Wujudul Hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah dan telah memenuhi kriteria Metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li yang digunakan oleh NU dan Ormas Islam yang lainnya.

Untuk menentukan awal bulan, metode Wujudul Hilal mensyaratkan hilal sudah ada diatas ufuk atau tinggi hilal diatas Nol derajat, hal ini terpenuhi karena tinggi hilal sudah 3,93 derajat.

Sedangkan metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li mensyaratkan hilal harus sudah terlihat dengan mata. Berdasarkan pengalaman yang sudah disepakati oleh para ahli rukyat, jika cuaca cerah, hilal baru bisa dilihat jika tingginya minimal 2 derajat. Pada Minggu malam Senin, hilal sangat mungkin terlihat karena tingginya sudah lebih-besar dari 2 derajat yaitu 3,93 derajat.

Dengan demikian, semua ormas Islam baik yang menggunakan metode Wujudul Hilal maupun metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li, akan sepakat menetapkan Awal Ramadhan 1437 H pada Hari Senin, 06 Juni 2016 M.

Hari Raya Idul Fitri 1437 H / 2016 M

Ijtimak akhir bulan Ramadhan  : Senin, 4 Juli 2016 M, jam 18.00 WIB
Tinggi Hilal malam Selasa        : - 1,10 derajat
Tinggi Hilal malam Rabu          : 12,07 derajat
Tanggal 1 Syawal 1437 H         : Rabu, 6 Juli 2016 M.

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, tinggi hilal pada malam Selasa adalah -1,10 derajat, artinya hilal masih berada dibawah ufuk, belum wujud, dan pastinya tidak bisa dilihat. Baik metode Wujudul Hilal maupun metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li akan sepakat bahwa hari Selasa masih termasuk Bulan Ramadhan.

Sedangkan pada Selasa malam Rabu tinggi hilal sudah 12,07 derajat, artinya hilal sudah berada diatas ufuk, sudah wujud, dan pastinya sudah bisa dilihat dengan mata karena sudah jauh diatas 2 derajat.

Dengan demikian, metode Wujudul Hilal dan metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li akan sepakat menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Hari Rabu, 06 Juli 2016 M. Dengan kata lain, Umat Islam akan berpuasa selama 30 hari.

Indahnya Kebersamaan

Betapa indahnya jika seluruh Umat Islam melaksanakan ibadah secara bersama, berbuka puasa bersama, merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama. Bersalam silaturrahim, saling bertemu dan saling meminta maaf. Saling bantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kesabaran.

Semoga kebersamaan ini terus terjalin sampai Hari Akhir dan tidak terbatas hanya pada pelaksanaan Ibadah Puasa dan Hari Raya Idul Fitri saja, tapi pada seluruh aspek kehidupan.

Walloohu A’lam Bish-showaab.

Baca : Kapan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H / 2018 M

-----------------------------------------------------


*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)