Tuesday, October 14, 2014

Benarkah Foto Selfie Ketika Ibadah Termasuk Riya?


Seiring dengan perkembangan teknologi, kini para jamaah haji dan umroh ramai-ramai mendokumentasikan kegiatan ibadahnya dalam bentuk foto dan video lalu meng-uploadnya ke media sosial. Banyak kalangan yang menganggap bahwa perbuatan tersebut termasuk riya. Menurut saya foto selfie belum tentu termasuk riya, bahkan bisa termasuk tambahan perbuatan ibadah. Loh kok bisa?

Riya adalah perbuatan hati yang ingin memamerkan suatu bentuk ibadah agar mendapat pujian dari manusia. Tujuan pamernya adalah pujian manusia.

Jika tujuan pamernya adalah pujian manusia, jelas hal itu termasuk riya, tapi kalau tujuan pamernya adalah ingin menceritakan suatu nikmat yang telah diberikan oleh Alloh kepada kita maka tidak termasuk riya bahkan termasuk ibadah yaitu syukur nikmat. Bukankah Alloh memerintahkan kita untuk menceritakan nikmat yang kita peroleh dari Alloh?

"Dan atas nikmat dari Tuhan mu, ceritakanlah." (QS. Ad-Dhuha 93:11)

Jadi kalau pamernya dengan niat melaksanakan perintah Alloh sesuai ayat tersebut untuk menceritakan nikmat pemberian Alloh, maka perbuatannya termasuk ikhlas (melaksanakan perintah Alloh).

Disini jelas berbeda. Kalau riya tujuan pamernya adalah pujian manusia, tapi kalau ikhlas tujuan pamernya adalah melaksanakan perintah Alloh.

Riya dan ikhlas adalah perbuatan hati yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, yang bisa melihat apakah riya atau ikhlas hanyalah dirinya dan Alloh SWT. Jadi kita tidak bisa menghukumi seseorang riya atau ikhlas atas perbuatan yang dilakukannya, karena kita tidak bisa melihat isi hatinya. Kita hanya bisa berbaik sangka dan berdoa semoga perbuatan tersebut dilakukannya dengan ikhlas mencari keridloan Alloh.

Mari kita perhatikan masjid yang mewah, pesantren yang mewah, majelis taklim yang mewah, ulama mengarang kitab berjilid-jilid, Al-Qur'an terbesar, Al-Qur'an terkecil, dan sebagainya. Apakah para pembuatnya termasuk riya? Belum tentu, itu tergantung hati mereka, dan hanya mereka dan Alloh saja yang tahu riya atau ikhlasnya. Kita hanya bisa berbaik sangka dan berdoa semoga mereka ikhlas. Lalu kita mengambil hikmahnya, alhamdulillah masjidnya nyaman, alhamdulillah pesantrennya nyaman santrinya jadi betah menuntut ilmu, alhamdulillah ada ulama yang mengarang kitab dengan sangat jelas dan gamblang jadi lebih mudah faham, dan seterusnya.

Kembali kepada foto selfie, alhamdulillah mereka bisa melaksanakan ibadah haji dengan nyaman dan selamat, dan bisa menggugah hati umat Islam yang lain untuk melaksanakan haji pula, juga bisa mengikis anggapan sebagian umat Islam yang menganggap bahwa ibadah haji itu ngeri karena akan dibalas perbuatan dosa kita waktu di Indonesia. Semoga mereka melakukannya dengan ikhlas untuk syukur nikmat, dan semoga mereka semua menjadi haji yang mabrur.

Aamiin.