Saturday, November 22, 2014

Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1436 H / 2015 M Diprediksi Kompak

Inilah saatnya semua ormas Islam bersatu, setelah beberapa tahun ke belakang selalu terjadi perbedaan dalam penentuan awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri. Seperti 2 tulisan saya dalam blog ini sebelumnya: (1) Kapan Puasa Ramadhan 1434 H / 2013 M dan (2) Prediksi Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1435 H / 2014 M.  Kedua tulisan tersebut memprediksi adanya perbedaan atau adanya ketidakkompakkan dalam penentuan awal puasa Ramadhan terutama pada dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah, dan prediksi tersebut sudah terbukti benar.

Tapi kini, Pemerintah RI dalam hal ini Kementrian Agama Republik Indonesia beserta seluruh Ormas Islam di bawah naungannya (termasuk NU dan Muhammadiyah), diprediksi akan kompak dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1436 H / 2015 M. Semuanya akan menentukan sebagai berikut :

          Awal Puasa Ramadhan 1436 H     : Kamis, 18 Juni 2015 M
          Idul Fitri / 1 Syawal 1436 H         : Jumat, 17 Juli 2015 M
          Jumlah Hari Berpuasa                   : 29 Hari.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut : *)

Awal Ramadhan 1436 H
     Ijtimak akhir bulan Sya'ban      : Selasa, 16 Juni 2015 M jam 21.05 WIB
     Tinggi hilal malam Rabu          : -2,32 derajat
     Tinggi hilal malam Kamis        : 10,15 derajat
     Tanggal 1 Ramadhan                : Kamis, 18 Juni 2015 M

Idul Fitri / 1 Syawwal 1436 H
     Ijtimak akhir bulan Ramadhan  : Kamis,16 Juli 2015 M jam 08.21 WIB
     Tinggi hilal malam Jumat          : 3, 62 derajat
     Tanggal 1 Syawwal                    : Jumat, 17 Juli 2015 M

Mengapa Kompak?

Kompaknya semua ormas Islam di Indonesia, termasuk Muhammadiyah yang selama ini sering berbeda dari yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, dalam penentuan awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1436 H / 2015 M bukan karena telah meleburnya dua metode penentuan awal bulan yang digunakan : Metode Rukyatul Hilal bil Fi'li (digunakan oleh NU dan ormas lainnya) dan Metode Wujudul Hilal (digunakan oleh Muhammadiyah). Tapi, kompaknya ini karena hasil perhitungannya memenuhi semua kriteria yang ada pada kedua metode tersebut.
(Bagi pembaca yang belum memahami perbedaan Metode Rukyatul Hilal Bil Fi'li dan Metode Wujudul Hilal, keduanya sudah saya jelaskan pada 2 tulisan saya yang telah saya sebutkan di atas)

Berdasarkan hasil perhitungan untuk awal Ramadhan 1436 H di atas. Tinggi hilal pada malam Rabu -2,32 derajat, artinya pada saat matahari terbenam, hilal berada di bawah ufuk, dengan kata lain hilal belum wujud dan pastinya tidak akan bisa dirukyat/dilihat. Baru pada malam Kamis nya tinggi hilal 10,15 derajat, artinya hilal sudah wujud dan sudah melebihi batas minimal 2 derajat untuk bisa dirukyat (kedua metode: wujud dan rukyat, terpenuhi). Dengan demikian, awal Ramadhan 1436 H adalah Hari Kamis, 18 Juni 2015 M.

Sama halnya untuk penentuan Idul Fitri 1 Syawal 1436 H, berdasarkan hasil perhitungan di atas, tinggi hilal pada malam Jumat 3,62 derajat, artinya hilal sudah wujud dan bisa dirukyat karena telah melebihi batas minimal 2 derajat (kedua metode: wujud dan rukyat, terpenuhi), jadi Hari Raya Idul Fitri 1436 H jatuh pada Hari Jumat, 17 Juli 2015 M.

Apakah kompaknya ini akan terus berlanjut? Kita berharap seperti itu. Semoga.

Kenapa Masih Ada Jamaah Yang Berbada?

Adanya jamaah yang masih berbeda dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri seperti sebuah Jamaah yang sering kita lihat di TV, adalah karena metode perhitungan yang mereka gunakan merupakan metode hisab lama (tidak pernah di-update di lapangan) yang sudah tidak sesuai lagi dengan realita pergerakan matahari dan bulan pada saat ini.

Walloohu a'lam Bishshowaab.

-----------------------------------------------------
*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)

Tuesday, October 14, 2014

Benarkah Foto Selfie Ketika Ibadah Termasuk Riya?


Seiring dengan perkembangan teknologi, kini para jamaah haji dan umroh ramai-ramai mendokumentasikan kegiatan ibadahnya dalam bentuk foto dan video lalu meng-uploadnya ke media sosial. Banyak kalangan yang menganggap bahwa perbuatan tersebut termasuk riya. Menurut saya foto selfie belum tentu termasuk riya, bahkan bisa termasuk tambahan perbuatan ibadah. Loh kok bisa?

Riya adalah perbuatan hati yang ingin memamerkan suatu bentuk ibadah agar mendapat pujian dari manusia. Tujuan pamernya adalah pujian manusia.

Jika tujuan pamernya adalah pujian manusia, jelas hal itu termasuk riya, tapi kalau tujuan pamernya adalah ingin menceritakan suatu nikmat yang telah diberikan oleh Alloh kepada kita maka tidak termasuk riya bahkan termasuk ibadah yaitu syukur nikmat. Bukankah Alloh memerintahkan kita untuk menceritakan nikmat yang kita peroleh dari Alloh?

"Dan atas nikmat dari Tuhan mu, ceritakanlah." (QS. Ad-Dhuha 93:11)

Jadi kalau pamernya dengan niat melaksanakan perintah Alloh sesuai ayat tersebut untuk menceritakan nikmat pemberian Alloh, maka perbuatannya termasuk ikhlas (melaksanakan perintah Alloh).

Disini jelas berbeda. Kalau riya tujuan pamernya adalah pujian manusia, tapi kalau ikhlas tujuan pamernya adalah melaksanakan perintah Alloh.

Riya dan ikhlas adalah perbuatan hati yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, yang bisa melihat apakah riya atau ikhlas hanyalah dirinya dan Alloh SWT. Jadi kita tidak bisa menghukumi seseorang riya atau ikhlas atas perbuatan yang dilakukannya, karena kita tidak bisa melihat isi hatinya. Kita hanya bisa berbaik sangka dan berdoa semoga perbuatan tersebut dilakukannya dengan ikhlas mencari keridloan Alloh.

Mari kita perhatikan masjid yang mewah, pesantren yang mewah, majelis taklim yang mewah, ulama mengarang kitab berjilid-jilid, Al-Qur'an terbesar, Al-Qur'an terkecil, dan sebagainya. Apakah para pembuatnya termasuk riya? Belum tentu, itu tergantung hati mereka, dan hanya mereka dan Alloh saja yang tahu riya atau ikhlasnya. Kita hanya bisa berbaik sangka dan berdoa semoga mereka ikhlas. Lalu kita mengambil hikmahnya, alhamdulillah masjidnya nyaman, alhamdulillah pesantrennya nyaman santrinya jadi betah menuntut ilmu, alhamdulillah ada ulama yang mengarang kitab dengan sangat jelas dan gamblang jadi lebih mudah faham, dan seterusnya.

Kembali kepada foto selfie, alhamdulillah mereka bisa melaksanakan ibadah haji dengan nyaman dan selamat, dan bisa menggugah hati umat Islam yang lain untuk melaksanakan haji pula, juga bisa mengikis anggapan sebagian umat Islam yang menganggap bahwa ibadah haji itu ngeri karena akan dibalas perbuatan dosa kita waktu di Indonesia. Semoga mereka melakukannya dengan ikhlas untuk syukur nikmat, dan semoga mereka semua menjadi haji yang mabrur.

Aamiin.