Pages

Monday, June 18, 2018

Kapan Hari Raya Idul Adha 1439 H / 2018 M ?


Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban selalu dilaksanakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Pada tahun 2018 ini Hari Raya Idul Adha 1439 H bertepatan dengan Hari Rabu, 22 Agustus 2018.

Suasana Hari Raya Idul Adha 1439 H akan terasa kompak karena dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah diprediksi akan menetapkan hari yang sama sebagai Hari Raya Idul Adha 1439 H. Walaupun metode penentuan awal bulan berbeda antara NU dan Muhammadiyah, NU menggunakan Metode Rukyaul Hilal bil Fi’li dan Muhammadiyah menggunakan Metode Wujudul Hilal, tapi hasil perhitungan dari kedua metode tersebut akan sama-sama menyatakan bahwa hilal belum terlihat / belum wujud.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut : *)

     Ijtimak akhir Dzulqa’dah      : Sabtu, 11 Agustus 2018 M jam 16.51WIB
     Tinggi hilal malam Ahad      : -0,60 derajat
     Tinggi hilal malam Senin     : 13,25 derajat
     Tanggal 1 Dzulhijjah            : Senin, 13 Agustus 2018 M
     Tanggal 10 Dzulhijjah          : Rabu, 22 Agustus 2018 M

Penjelasan :
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, setelah ijtimak, tinggi hilal pada malam Ahad -0,60 derajat, artinya hilal belum wujud dan belum bisa dirukyat, jadi tanggal 1 Dzulhijjah 1439 H bertepatan dengan Hari Senin, 13 Agustus 2018 M. Dengan demikian tanggal 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Idul Adha 1439 H jatuh pada Hari Rabu, 22 Agustus 2018 M.

Kenapa Masih Ada Jamaah Yang Berbeda?
Adanya jamaah yang masih berbeda dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri seperti yang sering kita lihat di TV, adalah karena metode perhitungan yang mereka gunakan merupakan metode hisab lama (tidak pernah di-update di lapangan) yang sudah tidak sesuai lagi dengan realita pergerakan matahari dan bulan pada saat ini.

Walloohu a'lam Bishshowaab.


-------------------------------

*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)

Monday, May 7, 2018

Kapan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H / 2018 M


Pada tahun 2018 ini mayoritas Umat Islam di Indonesia diprediksi akan melaksanakan Awal Puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1439 H secara kompak bersamaan. Hal ini terjadi karena Pemerintah RI dalam hal ini Kementrian Agama Republik Indonesia beserta seluruh Ormas Islam di bawah naungannya (termasuk NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia), diprediksi akan kompak dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H / 2018 M, yaitu :

          Awal Puasa Ramadhan 1439 H     : Kamis, 17 Mei 2018 M
          Idul Fitri / 1 Syawal 1439 H         : Jumat, 15 Juni 2018 M
          Jumlah Hari Berpuasa                   : 29 Hari.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut : *)

Awal Ramadhan 1439 H
     Ijtimak akhir bulan Sya'ban      : Selasa, 16 Mei 2018 M jam 18.41WIB
     Tinggi hilal malam Rabu          : -0,72 derajat
     Tinggi hilal malam Kamis        : 12,17 derajat
     Tanggal 1 Ramadhan                : Kamis, 17 Mei 2018 M

Idul Fitri / 1 Syawwal 1439 H
     Ijtimak akhir bulan Ramadhan  : Kamis,14 Juni 2018 M jam 02.38 WIB
     Tinggi hilal malam Jumat          : 7,98 derajat
     Tanggal 1 Syawwal                    : Jumat, 15 Juni 2018 M

Penjelasan Perhitungan Awal Puasa Ramadhan

Berdasarkan hasil perhitungan untuk awal Ramadhan 1439 H di atas. Tinggi hilal pada malam Rabu -0,72 derajat, artinya pada saat matahari terbenam, hilal berada di bawah ufuk, dengan kata lain hilal belum wujud dan pastinya tidak akan bisa dirukyat/dilihat. Baru pada malam Kamis nya tinggi hilal 12,17 derajat, artinya hilal sudah wujud dan sudah melebihi batas minimal 2 derajat untuk bisa dirukyat. Dengan demikian, awal Ramadhan 1439 H adalah Hari Kamis, 17 Mei 2018 M.

Penjelasan Perhitungan Hari Raya Idul Fitri

Berdasarkan hasil perhitungan untuk penentuan Idul Fitri 1 Syawal 1436 H di atas, tinggi hilal pada malam Jumat 7,98 derajat, artinya hilal sudah wujud dan bisa dirukyat karena telah melebihi batas minimal 2 derajat, jadi Hari Raya Idul Fitri 1439 H jatuh pada Hari Jumat, 15 Juni 2018 M.

Kenapa Masih Ada Jamaah Yang Berbeda?

Adanya jamaah yang masih berbeda dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri seperti yang sering kita lihat di TV, adalah karena metode perhitungan yang mereka gunakan merupakan metode hisab lama (tidak pernah di-update di lapangan) yang sudah tidak sesuai lagi dengan realita pergerakan matahari dan bulan pada saat ini.

Walloohu a'lam Bishshowaab.



-------------------------------

*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)


Tuesday, June 28, 2016

Trading Forex Online Menurut Islam Hukumnya Haram ?

Pada kesempatan ini kita akan mengkaji mengenai halal atau haramnya perdagangan / trading forex online dalam pandangan Islam seperti yang banyak dipertanyakan di media. Trading forex online yang dimaksud pada tulisan ini adalah forex yang diperdagangkan secara online.

Forex berasal dari kata "Foreign Exchange" yang berarti pertukaran mata uang asing. Forex yang dimaksud dalam tulisan ini adalah mata uang (valas) yang dipertukarkan berdasarkan pasangan-pasangannya (pairs) secara online. Pasangan-pasangan (pairs) itu berupa EUR/USD, GBP/USD, EUR/GBP, USD/JPY dan seterusnya.

Perdebatan mengenai halal atau haramnya trading forex online, sebagian sudah terselesaikan berkat keluarnya Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI No.28/DSN-MUI/III/2002 Tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf), namun dalam fatwa tersebut tidak menyebutkan secara tegas mengenai trading forex online. Fatwa tersebut hanya menyebutkan trading forex secara umum, berikut kutipan fatwanya :
"Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan).
2. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan).
3. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).
4. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dan secara tunai."
Pada poin no.1, MUI memfatwakan bahwa transaksi jual beli mata uang boleh dilakukan kalau tidak untuk spekulasi (untung-untungan). Dengan kata lain, transaksi jual beli mata uang hukumnya menjadi haram (tidak boleh) apabila dilakukan dengan spekulasi, tebak-tebakan, atau untung-untungan (menebak dengan maksud mencari untung), karena itu termasuk judi.

Pada poin no.2, MUI memfatwakan bahwa transaksi jual beli mata uang boleh dilakukan kalau ada "kebutuhan transaksi" atau untuk berjaga-jaga (simpanan). Pemahaman tentang "kebutuhan transaksi" pada fatwa tersebut adalah kebutuhan transaksi mu'amalah seperti untuk kebutuhan traveling, ekspor-impor, membayar hutang ke orang asing, dan lain-lain, bukan transaksi yang disengaja untuk mencari keuntungan dari perubahan nilai kurs. Dengan kata lain, kalau transaksi jual beli mata uang dilakukan dengan maksud mencari profit/keuntungan dari perubahan nilai kurs maka hukumnya haram.
Selain itu, madharatnya, jika jual beli mata uang dimaksudkan untuk mencari profit, maka hal ini bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi suatu negara.
Setiap pelaku trading forex online bertujuan untuk mencari profit dari perubahan nilai mata uang, tidak pernah bertujuan simpanan (jaga-jaga), apalagi untuk transaksi mu'amalah.

Dengan memperhatikan poin 1 dan poin 2 dari kutipan Fatwa MUI di atas, maka bisa disimpulkan bahwa trading forex online dalam pandangan Islam hukumnya HARAM.

Alasan Trading Forex Online Hukumnya Haram

Trading forex online hukumnya haram karena prosedur transaksinya sama dengan judi, ada episode ijab kabul menebak/spekulasi, dan diakhir transaksi ada kemungkinan hasilnya nol.

Mari kita bandingkan prosedur transaksi antara tranding forex online dengan judi bola.

Ini prosedur transaksi trading forex online :
  1. Si A menyetor uang yang akan ditradingkan ke rekening trading miliknya yang ada di broker.
  2. Si A menganalisa pasar berdasarkan indikator dan berita yang dimilikinya, lalu menentukan posisi buy atau sell (menebak dengan tujuan agar profit).
  3. Setelah mengambil posisi buy/sell, ada dua kemungkinan saat close yaitu "untung atau rugi".
  4. Kalau rugi, maka uangnya yang ditransaksikan hilang.

Ini prosedur transaksi judi, misalnya judi bola :
  1. Si A menyetor uang yang akan dipertaruhkan ke bandar.
  2. Si A menganalisa para pemain yang akan bertanding berdasarkan performa dan berita yang dimilikinya, apakah pemain inti tampil semua, apakah ada pemain inti yang cedera dan sebagainya, lalu menentukan posisi taruhan menang atau kalah (menebak dengan tujuan agar untung).
  3. Setelah mengambil posisi menang/kalah, ada dua kemungkinan saat usai pertandingan yaitu "menang atau kalah".
  4. Kalau kalah, maka uangnya yang ditransaksikan hilang.
Disini terlihat pada prosedur ke-2 ada episode ijab kabul menebak : "buy/sell" (menjatuhkan tebakan diantara dua pilihan : buy atau sell). Walaupun didahului dengan analisa yang mendalam sehingga tebakannya tidak asal tebak, ya tetap saja hasilnya berupa tebakan juga atau spekulasi alias judi karena hasilnya bisa loss atau profit. Selain itu, diakhir transaksi / saat close ada potensi kehilangan uang yang ditransaksikan tanpa ada barterannya.

Coba Tunjukan Prosedur Transaksi yang Halal !

Mari kita bandingkan dengan prosedur transaksi pada perdagangan yang HALAL, baik pada komoditas maupun valas.
Ini prosedur transaksi jual beli komoditas:
  1. Si A ingin membeli kulkas dan si B bersedia menjual kulkasnya dengan harga tertentu, lalu si A dan si B menyepakati harga kulkas.
  2. Terjadi ijab kabul / serah terima kulkas dan uang.
  3. Si A, RELA menyerahkan sejumlah uang untuk medapatkan kulkas yang diinginkannya, dan si B pun RELA menyerahkan kulkas untuk mendapatkan sejumlah uang yang besarnya sesuai harga kesepakatan.
  4. Seusai transaksi, si A mendapat kulkas dan si B mendapat uang dengan ke-RELA-an masing-masing sesuai kesepakatan.

Ini prosedur transaksi jual beli valas :
  1. Si A punya Rupiah dan ingin memiliki Dollar, sedangkan si B punya Dollar dan bersedia melepas dollarnya ke Rupiah dengan kurs tertentu, lalu si A dan si B menyepakati nilai kurs Rupiah terhadap Dollar.
  2. Terjadi ijab kabul / serah terima Rupiah dan Dollar.
  3. Si A, RELA menyerahkan Rupiah untuk medapatkan Dollar yang diinginkannya, dan si B pun RELA menyerahkan Dollar untuk mendapatkan Rupiah yang besarnya sesuai nilai kurs kesepakatan.
  4. Seusai transaksi, si A mendapat Dollar dan si B mendapat Rupiah dengan ke-RELA-an masing-masing sesuai kesepakatan.
Disini terlihat bahwa pada perdagangan yang halal, seluruh transaksinya bebas dari unsur tebakan, dan semua pihak "sama-sama RELA". Demikian juga, diakhir transaksi semua pihak mendapatkan bagiannya, tidak ada yang tangan hampa atau nol.

Bagaimana dengan Money Changer (tempat penukaran uang)? Bukankah penukaran uang dijadikan ladang bisnis?


Bisnis Money Changer (tempat penukaran uang) tidak haram karena profitnya tidak diambil dari fluktuasi nilai kurs, tapi dari selisih nilai jual dan nilai beli mata uang, dimana nilai jual dan nilai beli ini sudah disepakati sebelum transaksi, dan di Money Changer tidak ada tebakan.


Kesimpulan

Trading forex online menurut Islam hukumnya haram, karena :
  1. Pada tranding forex online ada spekulasi atau tebakan untuk mencari untung. Walaupun tebakan itu didahului dengan analisa berdasarkan ilmu dan berita forex, tetapi tetap saja hasilnya berupa tebakan antara pilihan buy atau sell yang sama-sama berpotensi loss atau profit. (Melanggar Fatwa MUI poin 1 pada kutipan di atas.)
  2. Bisnis trading forex online, menjadikan transaksi jual beli mata uangnya sebagai ladang mencari untung dengan memanfaatkan fluktuasi nilai kurs, bukan untuk kebutuhan transaksi mu'amalah. (Melanggar Fatwa MUI poin 2 pada kutipan di atas.)
  3. Trading forex online sebenarnya tidak menganut azas jual beli yang sah menurut Islam, karena di akhir transaksi berpotensi ada pihak yang loss / kehilangan uang yang ditransaksikan tanpa ada barterannya.
  4. Kegiatan trading forex online ini bisa mempengaruhi kestabilan nilai kurs mata uang suatu negara yang berimplikasi pada ketidakstabilan ekonomi negara tersebut, bahkan bisa menjadi krisis ekonomi seperti yang terjadi di Indonesia tahun 1997-1998.
  5. Kegiatan trading forex online adalah mencari untung dengan memilih (kalau tidak mau menebak) antara buy atau sell, dan tidak ada nilai tambah "economic value" yang diberikan dari transaksinya. Value / nilai tambah itu misalnya: saya membeli botol plastik bekas dengan harga Rp200,- lalu botol bekas ini saya ubah menjadi tempat pensil yang indah, kemudian saya jual kembali tempat pensil itu dengan harga Rp500,- jadi saya mendapatkan profit Rp300,- ini imbalan karena saya telah memeberikan nilai tambah pada botol plastik bekas tersebut. Dalam trading forex online, profit dihasilkan bukan dari nilai tambah.
Disclaimer :
Tulisan ini hanya dimaksudkan sebagai pencerahan kepada seluruh Umat Islam dalam khazanah perdagangan / Trading Forex Online. Tidak dimaksudkan mengajak atau melarang Trading Forex Online. Hukum halal dan haram serta penjelasan lain yang disampaikan dalam tulisan ini pun hanya berdasarkan intrerpretasi penulis terhadap dalil/keterangan yang ada dan tidak mengikat bagi siapapun. 


Thursday, March 3, 2016

Puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1437 H / 2016 M dalam Kebersamaan


Alhamdulillah, pada tahun 2016, umat Islam diprediksi akan mengawali dan mengakhiri Puasa Ramadhan 1437 H secara bersama. Artinya awal puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1437 H akan dilaksanakan oleh Umat Islam secara bersama, tidak ada ormas Islam yang satu mendahului ormas Islam yang lain dalam melaksanakannya. Ormas Islam yang saya maksud adalah seluruh ormas Islam yang resmi dibawah Kementrian Agama Republik Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan sebagainya.

Secara bersama, Insya Allah, Puasa Ramadhan 1437 H akan dimulai pada Hari Senin, 6 Juni 2016 M, sedangkan Hari Raya Idul Fitri 1437 H akan dilaksanakan pada Hari Rabu, 6 Juli 2016 M. Dengan demikian Umat Islam akan melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan 1437 H selama 30 hari.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut : *)

Awal Puasa Ramadhan 1437 H / 2016 M

Ijtimak akhir bulan Sya’ban    : Ahad, 5 Juni 2016 M, jam 09.57 WIB
Tinggi Hilal malam Senin       : 3,93 derajat
Tanggal 1 Ramadhan 1437 H  : Senin, 6 Juni 2016 M.

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, tinggi hilal pada malam Senin 3,93 derajat. Tinggi hilal sebesar ini telah memenuhi kriteria Metode Wujudul Hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah dan telah memenuhi kriteria Metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li yang digunakan oleh NU dan Ormas Islam yang lainnya.

Untuk menentukan awal bulan, metode Wujudul Hilal mensyaratkan hilal sudah ada diatas ufuk atau tinggi hilal diatas Nol derajat, hal ini terpenuhi karena tinggi hilal sudah 3,93 derajat.

Sedangkan metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li mensyaratkan hilal harus sudah terlihat dengan mata. Berdasarkan pengalaman yang sudah disepakati oleh para ahli rukyat, jika cuaca cerah, hilal baru bisa dilihat jika tingginya minimal 2 derajat. Pada Minggu malam Senin, hilal sangat mungkin terlihat karena tingginya sudah lebih-besar dari 2 derajat yaitu 3,93 derajat.

Dengan demikian, semua ormas Islam baik yang menggunakan metode Wujudul Hilal maupun metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li, akan sepakat menetapkan Awal Ramadhan 1437 H pada Hari Senin, 06 Juni 2016 M.

Hari Raya Idul Fitri 1437 H / 2016 M

Ijtimak akhir bulan Ramadhan  : Senin, 4 Juli 2016 M, jam 18.00 WIB
Tinggi Hilal malam Selasa        : - 1,10 derajat
Tinggi Hilal malam Rabu          : 12,07 derajat
Tanggal 1 Syawal 1437 H         : Rabu, 6 Juli 2016 M.

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, tinggi hilal pada malam Selasa adalah -1,10 derajat, artinya hilal masih berada dibawah ufuk, belum wujud, dan pastinya tidak bisa dilihat. Baik metode Wujudul Hilal maupun metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li akan sepakat bahwa hari Selasa masih termasuk Bulan Ramadhan.

Sedangkan pada Selasa malam Rabu tinggi hilal sudah 12,07 derajat, artinya hilal sudah berada diatas ufuk, sudah wujud, dan pastinya sudah bisa dilihat dengan mata karena sudah jauh diatas 2 derajat.

Dengan demikian, metode Wujudul Hilal dan metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li akan sepakat menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Hari Rabu, 06 Juli 2016 M. Dengan kata lain, Umat Islam akan berpuasa selama 30 hari.

Indahnya Kebersamaan

Betapa indahnya jika seluruh Umat Islam melaksanakan ibadah secara bersama, berbuka puasa bersama, merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama. Bersalam silaturrahim, saling bertemu dan saling meminta maaf. Saling bantu dalam kebaikan dan saling menasihati dalam kesabaran.

Semoga kebersamaan ini terus terjalin sampai Hari Akhir dan tidak terbatas hanya pada pelaksanaan Ibadah Puasa dan Hari Raya Idul Fitri saja, tapi pada seluruh aspek kehidupan.

Walloohu A’lam Bish-showaab.

Baca : Kapan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H / 2018 M

-----------------------------------------------------


*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)

Tuesday, June 2, 2015

Hari Raya Idul Adha 1436 H / 2015 M Diprediksi Ada Perbedaan

Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 1436 H / 2015 M di Indonesia diprediksi akan ditetapkan oleh Pemerintah RI melalui Sidang Itsbat Kementrian Agama RI : jatuh pada Hari Kamis, 24 September 2015 M.

Hari Raya Idul Adha selalu dilaksanakan pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah menurut Kalender Hijriyah. Pada tahun 2015 ini, tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H bertepatan dengan Hari Selasa, 15 September 2015 M. Dengan demikian maka tanggal 10 Dzulhijjah 1436 H jatuh pada Hari Kamis, 24 September 2015 M.

Hasil perhitungan yang mendasarinya adalah sebagai berikut:  *)

Ijtimak akhir bulan Dzulqa'dah    : Ahad, 13 September 2015, jam 13:33 WIB
Tinggi Hilal malam Senin            : 0,58 derajat
Awal Dzulhijjah 1436 H               : Selasa, 15 September 2015 M
Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436)    : Kamis, 24 September 2015 M

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, setelah ijtimak, tinggi hilal pada saat matahari tenggelam di ufuk barat malam Senin adalah 0,58 derajat di atas ufuk. Biasanya, tinggi hilal kurang dari 2 derajat belum bisa dirukyat. Kalau hilal belum bisa dirukyat, maka bulan Dzulqo'dah digenapkan 30 hari. Jadi tanggal 1 Dzulhijjah adalah hari berikutnya yaitu Selasa 15 September 2015 M dan tanggal 10 Dzuhhijjah Hari Raya Idul Adha nya adalah Hari Kamis, 24 September 2015 M.

Penetapan Hari Raya Idul Adha diprediksi akan ada perbedaan. Apabila Muhammadiyah masih menggunakan Metode Wujudul Hilal, maka Muhammadiyah akan menetapkan Idul Adha 1436 H jatuh pada Hari Rabu, 23 September 2015 M, sehari sebelum yang ditetapkan oleh Pemerintah yaitu Hari Kamis, 24 September 2015 M.

Kenapa ada perbedaan?

Perbedaan ini disebabkan tinggi hilal pada malam Senin, sebagaimana hasil perhitungan di atas, hanya 0,58 derajat. Tinggi hilal 0,58 derajat ini belum bisa dilihat/dirukyat, baik dengan mata secara langsung maupun dengan bantuan alat teropong yang tercanggih saat ini. Alat teropong yang tercanggih saat ini baru bisa mendeteksi hilal minimal 2 derajat. Jadi pada malam Senin itu, hilal sudah ada di atas ufuk (hasil perhitungan) tapi belum bisa dilihat/dirukyat.

Dengan demikian Muhammadiyah yang menggunakan Metode Wujudul Hilal akan menetapkan Hari Senin 14 September 2015 M sebagai tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H karena berdasarkan hasil perhitungan hilal sudah wujud atau ada di atas ufuk. Sedangkan NU, Persis, Al-Irsyad, dan lain-lain yang menggunakan Metode Rukyatul Hilal Bil Fi'li akan menetapkan Hari Selasa 15 September 2015 M sebagai tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H karena pada malam Senin nya hilal tidak bisa dirukyat.
Jika penetapan tanggal 1 Dzulhijjah berberda, maka otomatis tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha) nya pun berbeda.

Tetap Menjaga Kerukunan

Alhamdulillah umat Islam di Indonesia saat ini semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan, mereka bisa menerima perbedaan dalam Islam selama perbedaan itu bukan akidah. Perbedaan pelaksanaan Hari Raya Idul Adha ini adalah perbedaan penafsiran dari dalil yang sama. Dalil Al-Quran nya sama, dalil Hadits nya sama, tapi penafsirannya berbeda.

Perbedaan hari pelaksanaan ibadah ini sering terjadi pada tahun-tahun yang lalu seperti gencar diberitakan di TV, tapi kita bisa menyaksikan bahwa umat Islam tetap rukun dan tetap menjalin Ukhuwah Islamiyah. Semoga sikap ini bisa terus kita jaga dan kita pelihara. Aamiin.

Walloohu A'lam Bishshowaab.

-----------------------------
*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)

Saturday, November 22, 2014

Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1436 H / 2015 M Diprediksi Kompak

Inilah saatnya semua ormas Islam bersatu, setelah beberapa tahun ke belakang selalu terjadi perbedaan dalam penentuan awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri. Seperti 2 tulisan saya dalam blog ini sebelumnya: (1) Kapan Puasa Ramadhan 1434 H / 2013 M dan (2) Prediksi Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1435 H / 2014 M.  Kedua tulisan tersebut memprediksi adanya perbedaan atau adanya ketidakkompakkan dalam penentuan awal puasa Ramadhan terutama pada dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah, dan prediksi tersebut sudah terbukti benar.

Tapi kini, Pemerintah RI dalam hal ini Kementrian Agama Republik Indonesia beserta seluruh Ormas Islam di bawah naungannya (termasuk NU dan Muhammadiyah), diprediksi akan kompak dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1436 H / 2015 M. Semuanya akan menentukan sebagai berikut :

          Awal Puasa Ramadhan 1436 H     : Kamis, 18 Juni 2015 M
          Idul Fitri / 1 Syawal 1436 H         : Jumat, 17 Juli 2015 M
          Jumlah Hari Berpuasa                   : 29 Hari.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut : *)

Awal Ramadhan 1436 H
     Ijtimak akhir bulan Sya'ban      : Selasa, 16 Juni 2015 M jam 21.05 WIB
     Tinggi hilal malam Rabu          : -2,32 derajat
     Tinggi hilal malam Kamis        : 10,15 derajat
     Tanggal 1 Ramadhan                : Kamis, 18 Juni 2015 M

Idul Fitri / 1 Syawwal 1436 H
     Ijtimak akhir bulan Ramadhan  : Kamis,16 Juli 2015 M jam 08.21 WIB
     Tinggi hilal malam Jumat          : 3, 62 derajat
     Tanggal 1 Syawwal                    : Jumat, 17 Juli 2015 M

Mengapa Kompak?

Kompaknya semua ormas Islam di Indonesia, termasuk Muhammadiyah yang selama ini sering berbeda dari yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, dalam penentuan awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1436 H / 2015 M bukan karena telah meleburnya dua metode penentuan awal bulan yang digunakan : Metode Rukyatul Hilal bil Fi'li (digunakan oleh NU dan ormas lainnya) dan Metode Wujudul Hilal (digunakan oleh Muhammadiyah). Tapi, kompaknya ini karena hasil perhitungannya memenuhi semua kriteria yang ada pada kedua metode tersebut.
(Bagi pembaca yang belum memahami perbedaan Metode Rukyatul Hilal Bil Fi'li dan Metode Wujudul Hilal, keduanya sudah saya jelaskan pada 2 tulisan saya yang telah saya sebutkan di atas)

Berdasarkan hasil perhitungan untuk awal Ramadhan 1436 H di atas. Tinggi hilal pada malam Rabu -2,32 derajat, artinya pada saat matahari terbenam, hilal berada di bawah ufuk, dengan kata lain hilal belum wujud dan pastinya tidak akan bisa dirukyat/dilihat. Baru pada malam Kamis nya tinggi hilal 10,15 derajat, artinya hilal sudah wujud dan sudah melebihi batas minimal 2 derajat untuk bisa dirukyat (kedua metode: wujud dan rukyat, terpenuhi). Dengan demikian, awal Ramadhan 1436 H adalah Hari Kamis, 18 Juni 2015 M.

Sama halnya untuk penentuan Idul Fitri 1 Syawal 1436 H, berdasarkan hasil perhitungan di atas, tinggi hilal pada malam Jumat 3,62 derajat, artinya hilal sudah wujud dan bisa dirukyat karena telah melebihi batas minimal 2 derajat (kedua metode: wujud dan rukyat, terpenuhi), jadi Hari Raya Idul Fitri 1436 H jatuh pada Hari Jumat, 17 Juli 2015 M.

Apakah kompaknya ini akan terus berlanjut? Kita berharap seperti itu. Semoga.

Kenapa Masih Ada Jamaah Yang Berbada?

Adanya jamaah yang masih berbeda dalam penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri seperti sebuah Jamaah yang sering kita lihat di TV, adalah karena metode perhitungan yang mereka gunakan merupakan metode hisab lama (tidak pernah di-update di lapangan) yang sudah tidak sesuai lagi dengan realita pergerakan matahari dan bulan pada saat ini.

Walloohu a'lam Bishshowaab.

-----------------------------------------------------
*) Hasil Hisab Lajnah Falakiyah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo Kota Kediri Jawa Timur, dengan berdasarkan Imkanurrukyah untuk lokasi Jakarta (106.82'BT dan 6.18'LS)

Tuesday, October 14, 2014

Benarkah Foto Selfie Ketika Ibadah Termasuk Riya?


Seiring dengan perkembangan teknologi, kini para jamaah haji dan umroh ramai-ramai mendokumentasikan kegiatan ibadahnya dalam bentuk foto dan video lalu meng-uploadnya ke media sosial. Banyak kalangan yang menganggap bahwa perbuatan tersebut termasuk riya. Menurut saya foto selfie belum tentu termasuk riya, bahkan bisa termasuk tambahan perbuatan ibadah. Loh kok bisa?

Riya adalah perbuatan hati yang ingin memamerkan suatu bentuk ibadah agar mendapat pujian dari manusia. Tujuan pamernya adalah pujian manusia.

Jika tujuan pamernya adalah pujian manusia, jelas hal itu termasuk riya, tapi kalau tujuan pamernya adalah ingin menceritakan suatu nikmat yang telah diberikan oleh Alloh kepada kita maka tidak termasuk riya bahkan termasuk ibadah yaitu syukur nikmat. Bukankah Alloh memerintahkan kita untuk menceritakan nikmat yang kita peroleh dari Alloh?

"Dan atas nikmat dari Tuhan mu, ceritakanlah." (QS. Ad-Dhuha 93:11)

Jadi kalau pamernya dengan niat melaksanakan perintah Alloh sesuai ayat tersebut untuk menceritakan nikmat pemberian Alloh, maka perbuatannya termasuk ikhlas (melaksanakan perintah Alloh).

Disini jelas berbeda. Kalau riya tujuan pamernya adalah pujian manusia, tapi kalau ikhlas tujuan pamernya adalah melaksanakan perintah Alloh.

Riya dan ikhlas adalah perbuatan hati yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, yang bisa melihat apakah riya atau ikhlas hanyalah dirinya dan Alloh SWT. Jadi kita tidak bisa menghukumi seseorang riya atau ikhlas atas perbuatan yang dilakukannya, karena kita tidak bisa melihat isi hatinya. Kita hanya bisa berbaik sangka dan berdoa semoga perbuatan tersebut dilakukannya dengan ikhlas mencari keridloan Alloh.

Mari kita perhatikan masjid yang mewah, pesantren yang mewah, majelis taklim yang mewah, ulama mengarang kitab berjilid-jilid, Al-Qur'an terbesar, Al-Qur'an terkecil, dan sebagainya. Apakah para pembuatnya termasuk riya? Belum tentu, itu tergantung hati mereka, dan hanya mereka dan Alloh saja yang tahu riya atau ikhlasnya. Kita hanya bisa berbaik sangka dan berdoa semoga mereka ikhlas. Lalu kita mengambil hikmahnya, alhamdulillah masjidnya nyaman, alhamdulillah pesantrennya nyaman santrinya jadi betah menuntut ilmu, alhamdulillah ada ulama yang mengarang kitab dengan sangat jelas dan gamblang jadi lebih mudah faham, dan seterusnya.

Kembali kepada foto selfie, alhamdulillah mereka bisa melaksanakan ibadah haji dengan nyaman dan selamat, dan bisa menggugah hati umat Islam yang lain untuk melaksanakan haji pula, juga bisa mengikis anggapan sebagian umat Islam yang menganggap bahwa ibadah haji itu ngeri karena akan dibalas perbuatan dosa kita waktu di Indonesia. Semoga mereka melakukannya dengan ikhlas untuk syukur nikmat, dan semoga mereka semua menjadi haji yang mabrur.

Aamiin.